Tepat sembilan bulan setelah buku ini terbit, dan sudah mengalami lima kali cetak ulang. Akhirnya ia muncul juga di Kick Andy Metro TV.
Terimakasih kepada mas Gangsar Sukrisno dan mas Salman Faridi, Ditta-our promo road manager, mbak Vian, mbak Diah dan seluruh pasukan Bentang Pustaka, seluruh pasukan distribusi Mizan Media Utama, Ayu Windiyaningrum-our first manager, Eko Sri Rahardjo, Indri Nababan dan seluruh kru KickAndy.
Terimakasih para wartawan dan blogger yang sudah menulis berbagai review yang amat ciamik sekali. Terimakasih kepada para pihak yang membantu secara langsung atau tidak langsung yang tidak bisa …
“Novel yang menyenangkan” – Andrea Hirata, penulis tetralogi Laskar Pelangi
“Keakuratan dan detail cerita di dalamnya membuat saya jadi kangen sama Belanda” – Raditya Dika, penulis Kambing Jantan
“Kisahnya sangat nyata, penuh kejutan, dan inspiratif. Patut dibaca pula bagi yang ingin jalan-jalan ala backpacker di Eropa.” – Trinity, pemilik blog dan penulis buku The Naked Traveler
“…panduan wajib buat mereka yang bercita-cita tinggi agar mampu menghargai persahabatan dan cinta…” – Luigi Pralangga, blogger Indonesia di UN Peacekeeping Mission
Tepat sembilan bulan setelah buku ini terbit, dan sudah mengalami lima kali cetak ulang. Akhirnya ia muncul juga di Kick Andy Metro TV.
Terimakasih kepada mas Gangsar Sukrisno dan mas Salman Faridi, Ditta-our promo road manager, mbak Vian, mbak Diah dan seluruh pasukan Bentang Pustaka, seluruh pasukan distribusi Mizan Media Utama, Ayu Windiyaningrum-our first manager, Eko Sri Rahardjo, Indri Nababan dan seluruh kru KickAndy.
Terimakasih para wartawan dan blogger yang sudah menulis berbagai review yang amat ciamik sekali. Terimakasih kepada para pihak yang membantu secara langsung atau tidak langsung yang tidak bisa …
“Jadi, naskah ini ditulis oleh empat orang?” ucapan itu terlontar dari Gangsar Sukrisno, pada suatu malam di pertengahan tahun 2008. Ia saat itu adalah pemimpin Bentang Pustaka, dan baru saja memutuskan tertarik menerbitkan naskah Negeri Van Oranje (NOV). Saya yang duduk di hadapannya mengangguk antusias.
“Bagaimana penulisan nama-nama penulisnya nanti ya?” Gangsar sedikit tercenung, mengernyitkan dahi, wajahnya tampak memikirkan perwajahan karya ini nantinya. “Ya ditulis semuanya, Mas,” jawab saya dengan cengengesan dan menyeruput kopi.
Penulisan model keroyokan, atau collaborative writing, memang masih mengundang polemik. Meskipun sudah cukup lama sekali jamak dilakukan. Tercatat dalam sejarah, karya klasik Iliad and the Odyssey adalah penulisan kolaboratif pertama yang dilakukan. Banyak penulis terlibat dalam proses pengumpulan, penyusunan, hingga penulisan puisi yang bersumber dari tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi itu. Meski demikian atribusi penulis tetap diberikan kepada satu orang, Homer.
Scott Rettberg menyimpulkan, bahwa Homer bukanlah dikenal dalam sejarah sebagai penulis karya, yang dibuat antara abad kedua belas hingga kedelapan sebelum masehi itu, tapi sebagai fungsi utama sistem penulisan kolektif pertama dalam sejarah.
Penulisan secara kolektif memang masih menyimpan banyak kontroversi. Isu utamanya adalah atribusi penulis. Banyak peneliti karya-karya sastra kolaboratif seperti Lorraine York menyorot pentingnya kejelasan akan siapakah yang menuliskan dan ide siapakah yang ditulis, karena itu penulisan tidak boleh kolaboratif.
Penasaran ingin tahu lebih lanjut soal Negeri van Oranje ini? lebih asyik sembari diskusi santai bareng para penulisnya.
Kami akan hadir di:
Aula Depdiknas, Senayan. Hari Sabtu 20 Juni 2009, jam 11.00 pagi.
seperti biasa, mari datang dan ramaikan. mungkin beruntung bisa dapat kaos oranje limited edition dari penerbit, dan banyak lagi hadiah.